RAMpogan Arena


Dalam karya-karya sebelumnya, termasuk Pirates of Global South, MIVUBI membangun ulang situs-situs historis yang terkait dengan kolonialisme dan eksploitasi di wilayah selatan global. Melalui rekonstruksi benteng-benteng kolonial di dalam server gim, proyek tersebut menghadirkan sejarah bukan sebagai narasi linear, melainkan sebagai ruang pengalaman—ruang sejarah masa lalu hadir kembali melalui mekanisme permainan, pilihan pemain dan struktur ruang virtual. Pendekatan ini menjadi fondasi bagi RAMpogan Arena sebagai sekuel konseptual sekaligus pengembangan kritis dari praktik tersebut.

Dalam RAMpogan Arena di pameran ini MIVUBI memilih Benteng Belgica di Banda Neira sebagai situs utama. Benteng ini tidak hanya merepresentasikan arsitektur kolonial, tetapi juga menyimpan sejarah pembantaian masyarakat Banda oleh Jan Pieterszoon Coen. Di dalam ruang virtual ini, MIVUBI menghadirkan gameplay pertarungan manusia-kerbau dan macan, terinspirasi dari tradisi Rampogan Macan pada masa kerajaan Jawa. Dua sejarah kekerasan—kolonial dan feodal—dihadirkan secara berkelindan: pembantaian orang Banda yang berdampak pada hilangnya identitas kolektif, serta Rampogan yang turut berkontribusi pada kepunahan harimau Jawa. Karya ini tidak bertujuan untuk mengglorifikasi kekerasan, melainkan menghadirkannya sebagai medan refleksi atas bagaimana kekerasan diwariskan, dinormalisasi dan terus bertransformasi dalam kebudayaan.

RAMpogan Arena juga mengintegrasikan RAM (Reconnected Access Memory) Museum, sebuah museum virtual yang memuat karya-karya seni yang pernah mengalami sensor dan represi, dengan integrasi data laporan Koalisi Seni periode 2020–2024. Karya-karya tersebut ditempatkan secara permanen dalam bangunan heritage virtual, mempertemukan prinsip pelestarian cagar budaya dengan realitas pembatasan kebebasan berekspresi di masa kini. Melalui strategi ini, MIVUBI menegaskan bahwa sejarah dan warisan budaya bukan entitas statis, melainkan ruang hidup yang terus ditulis ulang melalui konflik dan negosiasi.

Dalam konteks Konvensi UNESCO 2005 tentang Perlindungan dan Promosi Keberagaman Ekspresi Budaya, RAMpogan Arena merepresentasikan praktik seni kontemporer yang menegaskan pentingnya kebebasan berekspresi, akses terhadap ruang budaya, serta pengakuan terhadap medium digital sebagai bentuk ekspresi budaya yang sah. Karya ini memperlihatkan bagaimana ekspresi budaya dapat berfungsi sebagai kritik terhadap kekuasaan, sekaligus sebagai sarana untuk menjaga keberagaman suara—termasuk suara yang terpinggirkan, disensor, atau dihapus dari narasi resmi. Dalam pameran SUARA Indonesia, RAMpogan Arena menempatkan teknologi digital sebagai ruang artikulasi kebudayaan yang relevan dengan tantangan kebebasan berekspresi di Indonesia hari ini.

Mivubi logo

Mivubi

We're a specialized project team exploring new possibilities using the Minecraft platform in the realms of Education, Art, and Culture.

Copyright © 2022-2026 Mivubi. Powered by PT Halo Karya Media.

Recent Works

Our Program

Contents Careers

Contact

Java, Indonesia mivubiteam@gmail.com +62821-3214-5370